TRADISI CEREMONIAL SUNAT RASUL DI KECAMATAN PASIERAJA – ACEH SELATAN

Aceh  umumnya kaya dengan adat dan istiadat, hal ini disebabkan karena masing-masing daerah memiliki tradisi yang berbeda satu dengan lainnya meskipun ada juga yang sama. Sebagai gambaran, disini akan kita bahas proses ceremonial sunatan rasul di kecamatan pasieraja.

1. Ninik Mamak

ninik mamak

Sebelum melaksanakan sunat rasul pihak keluarga melakukan ninik mamak atau duduk bersama sanak famili untuk menetapkan tanggal, hari dan bulan acara yang akan dilaksanakan.  Setelah kesepakatan ditetapkan maka selanjutnya pihak keluarga menyiapkan persiapan, termasuk menyebar udangan. Biasanya undangan berupa sirih (untuk perempuan) dan rokok ( untuk laki-laki)

2. Persiapan

memasang teratak

membantu menyiapkan dekorasi

Setelah waktu ditetapkan, masyarakat (pemuda) bantu membantu melakukan persiapan untuk acara sunatan rasul, proses persiapan akan dipimpin langsung oleh ketua pemuda setempat. Mulai dari membangun teratak, angkat-mengangkat sampai dengan hal-hal lainnya yang membutuhkan bantuan pemuda.

3. Malam Duek Ramee


Duek rame merupakan acara duduk bersama segenap masyarakat desa terutama tokoh dan perangkat-perangkat desa lainnya, kegiatan ini guna membahas keunuri rayeuk atau acara utama pada hari “H”.

4. Boh Gaca (memasang anai)

memakai anai (boh gaca)

Boh gaja atau memakai anai di sekitar ujung jari tangan kaki pada calon yang akan disunat rasul, kegiatan ini dimulai dari malam duek rame setelah tamu pulang hingga tiga malam berturut-turut. Boh gaca biasanya dilaksanakan oleh perempuan-perempuan remaja yang masih memiliki hubungan famili maupun tetangga.

5. Peusunteng

peusunteng

Peusunteng akan dilaksanakan esok harinya setelah malam duek rame, peusunteng ini dilakukan oleh beberapa pihak keluarga terdekat atau yang memiliki hubungan emosional dengan keluarga yang menyelenggarakan acara. Peusunteng ini sifatnya seperti utang tersirat artinya pihak penyelenggara yang mendapatkan peusunteng akan melakukan hal yang sama pada saat pihak peusunteng menyelenggarakan  acara  sunat rasul maupun acara pernikahan.

6. Keunuri (Kenduri)

Keunuri adalah dimana para ibu-ibu  tetangga dan desa setempat datang membantu menyiapkan persiapan untuk uroe ramee dengan memasak, dan menyiapkan beberapa keperluan lainnya sedangkan beberapa lainnya menyiapkan balee untuk acara peumanoe keesokannya.

7. Uroe Ramee

tradisi meuhidang untuk melayani tamu

Uroe ramee merupakan hari puncak dimana si calon akan melaksanakan sunat rasulnya dan para undangan akan datang. Sebelum pelaksanaan sunat rasul ada sederetan seremonial lainnya. Antara lain acara peusunteng untuk ternak yang akan disembelih misalnya kerbau, sapi, atau kambing (tergantung pihak penyelenggara) yang akan di pimpin oleh teungku (ustadz) setempat. Tradisi ini bertujuan sebagai penghargaan kepada ternak sebelum disembelih.

Selanjutnya acara peumanoe(memandikan), acara peumanoe ini akan dipimpin oleh ibu kepala desa kepada si calon yang akan disunat. Sebelum acara peumanoe masih ada acara peusunteng oleh ibu kelapa desa dan disusul oleh beberapa sanak famili. Rangkaian peumanoe berupa memandikan sicalon sunat dengan air yang sudah disediakan dalam  balee dengan menggunakan anyaman janur dan disusul dengan pangkas rambut.

8. Jok Bu Mudem/Mantri

jok bu mudem

Jok bu mudem atau mantri dilakukan setelah acara peumanoe, si calon sunat sudah siap dengan pakaian adat aceh. acara ini berupa makan bersama si calon dengan mudem / mantri

9. Sunat/Khitan

Setelah serangkaian acara diatas, barulah masuk pada pokok acara yaitu Khitan. Acara ini berlangsung setelah para undangan sudah pada pulang dan tinggallah sanak famili yang menunggu acara utama, biasanya proses khitan berlangsung sekitar sore hari

10. Meujaga.

meujaga

Meujaga merupakan tradisi untuk menjaga si sakit pasca khitan. Setelah khitan, si sunat tidak boleh melakukan aktivitas hanya tidur untuk mempercepat penyembuhan. Dalam proses penyembuhan inilah para pemuda akan berjaga dimalam hari selama tiga malam untuk melayani si sakit sampai dengan fajar. Selama  berjaga para pemuda melakukan aktivitas dengan bermain catur, bercerita dan aktivitas lainnya supaya tidak tertidur.

Begitulah sederetan tradisi acara sunat rasul dikecamatan Pasieraja Kebapaten Aceh Selatan. Dalam hal melayani undangan biasanya dijamu dengan hidangan dalam xxxx. Namun belakangan ini tradisi menjamu sudah mulai digantikan dengan istilah adat perancis. Dimana tradisi ini merupakan adat barat dimana para undangan datang, makan dan pulang. So, mari melestarikan adat istiadat yang diwariskan nenek monyang kita sebagai penghargaan/bukti bahwa mereka pernah ada….saleum

About these ads

About pasierajaku

pasie raja akan bangkit karena putra-putrinya punya potensi-potensi luar biasa......mari buktikan...untuk pasie raja.......

Posted on Agustus 18, 2010, in artikel and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. hai
    pasi Raja Nyan Di Pat lee
    hana tupat Long

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: