Cerita Klasik

oleh: Zulyadi

Masa-masa bocah ku lewati di kampungku yang begitu indah, tempatnya persis di kaki gunung yang hijau. Di sana ada sebuah sungai berbatu yang air jernihnya terpancar dari mulut-mulut gua. Di dekat sebuah batu besar biasanya aku dan teman-teman kecilku mandi sambil bermain “som-som batee”, siapa yang bisa menemukan kembali batu yang di sembunyikan di dasar sungai itulah pemenangnya. (dari catatan eka wandrie). menyambung sedikit ya…som-som batee adalah kegiatan rutin kami ketika mandi di dekat batu besar (batee raya) kami menamakan tempat itu,karena memang batunya hampir mencapai ukuran satu rumah bantuan tsunami sangat besar dan biasanya dibelakang batu itu bersembunyi ular piton seukuran pohon pinang (tp jarang memang kami melihatnya).biasalah cerita orang tua supaya kami tidak mandi disitu…

batu besar itu menjadi nostalgia bagi kami dan menjadi cerita klasik yang harus kami teruskan kepada anak-anak cucu kami nanti. sungai yang berbatu dan jernih itu tinggal kenangan di gerus oleh arus perambahan hutan,debit air sekarang berkurang dan hampir tidak ada lagi tempat yang asyik buat kami bermain som-som batee karena sisa air hanya tinggal selutut orang dewasa.

tidak ada lagi yang namanya kesejukan dan bunyi jangkrik serta orang hutan yang bermain riang diantara dahan PALA karena semua itu juga telah musnah di makan sang waktu. kami hanya bernostalgia dengan cerita klasik. namun sisa nostalgia itu masih tetap ada dan akan kami pelihara. tidak ada lagi sawah yang bisa kami garap karena irigasi tidak ada. makanya generasi dibawah kami tidak pernah merasakan bagaimana indahnya masa dulu hidup di desa PUCOK KRUENG. tidak ada lagi bunyi terompet dari batang padi,tidak ada lagi permainan bola pasca musim panen dan tidak adalagi bede (senjata) boh ram. semua itu tergerus oleh budaya GLOBALISASI.

masih sangat segar dalam ingatan ku, ketika musim kuini tiba. kegiatan kami adalah mendaki gunung simantok untuk mencari buah kuini yang jatuh dan memang terkadang kami nakal sampai memanjat pohon kuini itu untuk mengecek mana kuini yang sudah matang dengan cara menggoyang-goyangkan dahannya. terkadang harus berpacu juga mencari pohon untuk dipanjat ketika berpas-pasan dengan gerombolan babi. karena gunung simatok adalah MABESNYA BABI. kalau sudah musim kuini hampir rata-rata anak mempunyai bekas luka di dekat bibir karena menggigit buah kuini yang masih ada getahnya.

masa lalu adalah hari ini dan hari ini adalah masa depan. kami yakin bahwa generasi-generasi cerdas pucok krueng suatu saat akan kembali untuk membangun desanya. haqqul yakin…

selain main som-som bate dan manjta kuini orang, masa-masa kecil kami juga kami lalui dengan bermain tum (serabut kelapa), main gatok (main kelereng/pingpong), tembak ikan, petasan hasil buatan sendiri dan juga beude boh ram.

tapi ada yang sangat berkesan dimasa-masa kami kecil yaitu permainan peng dari korek api,,, pada mas itu banyak muncul jenis korek api dan hampir tidak ada orang yang memakai pemantik api,,kalaupun ada itu hanya digunakan oleh kakek yang menghisap rukok pucok (daun nipah). proh kek (tempat korek api) kami kumpulkan dan mendapatkan bandrol menurut warna dan jenis dari korek api mulai dari bandrol Rp. 5000 – Rp. 100.000. memang bukan uang asli tapi seolah-olah kami dibawa kedalam permainan judi kelas tinggi dan kami seakan berada di MACAO (hehehehehehe) lamunan kelas tinggi ne…

cara permainan prok keh ini adalah menggunakan uang sen Rp.50 dan dilantai akan dibuat dua kolom yaitu huruf S & B (S=sen B=burung). bandar akan memutarkan uang sen dan kemudian ditutup pakai telapak tangan,,permainan segera dimulai dan taruhan di mulai.

selain main prok keh,,,ada permainan yang melatih kejelian menembak bola pakai tangan yaitu main gatok menggunakan bola pingpong. permainan ini bisa beregu bisa juga perorangan. model permainan ini adalah menggali 3 lubang dan kita harus mampu mencapai tingkat tujuh baru dijadikan sebagai pemenang. tidak mudah mencapai tingkat tujuh dalam setiap permainan karena dibutuhkan ketangkasan dan kejelian dalam menembak bola-bola musuh. hukuman bagi yang kalah adalah dengan berdiri di lubang kedua dan celana diangkat melampaui lutut sampai ke paha selanjutnya para pemenang akan menembak betis dan paha memakai bola pingpong. bisa dibayangkan bagaimana bola pingpong berbekas dipaha. sakit tapi seru,,tidak ada dendam disini,,,

banyak permainan-permainan lain yang bisa kami mainkan pada saat itu, namun masa-masa itu harus berlalu dengan perjalanan sang waktu yang membuat kami semakin dewasa dan sayangnya permainan ini tidak bisa kami lihat lagi pasca konflik aceh melanda daerah kami. mengingat main tum memang membuat kisah yang menarik,,,terkadang sampai satu orang penjaga tapeh (serabut kelapa) harus menjaga tapeh selama 3 jam karena tidak berhasil menuntaskan permainan karena kami bisa bersembunyi sampai sekeliling kampung dan ada yang pergi mandi2 dulu siap tu baru nongol lagi.USIL MEMANG…

sekarang pucok krueng sudah berubah,,,generasi sekarang lebih suka memakai produk buatan luar dan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan TV,karena hampir semua penduduk pucok krueng mempunyai TV sekarang. beda dengan masa2 kami dulu,,hanya ada 2 atau 3 TV dan nonton pun mesti lobby yang punya TV dulu…

masa-masa kecil itu kami lalui dengan pasti dan penuh keceriaan,,,kami tidak mengenal yang namanya illegal logging dan juga kami tidak mengenal yang namanya HP. semoga ada permainan yang masih bisa kami ulang kembali bersama teman-teman kami yang sudah dewasa suatu kelak dengan mengemasnya dalam bentuk permainan rakyat MADE IN PUCOK KRUENG.

About pasierajaku

pasie raja akan bangkit karena putra-putrinya punya potensi-potensi luar biasa......mari buktikan...untuk pasie raja.......

Posted on Maret 12, 2010, in cerita and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: